Rabu, 10 Juli 2013

PDF
Cetak
E-mail


Oleh Anang Firmansyah   
Kamis, 11 November 2010 12:39

Ketahanan pangan dipengaruhi oleh jumlah produksi pangan yang dihasilkan suatu wilayah dibagi dengan jumlah pangan yang dikonsumsi. Pemupukan dengan dosis yang tepat merupakan salah satu faktor penting mendukung tercapainya produksi pangan yang tinggi. Ketepatan pemupukan yang spesifik lokasi tersebut dapat dilakukan dengan mudah dan sederhana melalui penggunaan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) dan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK)

PUTS dan PUTK merupakan perangkat yang diproduksi oleh Balai Penelitian Tanah Jl. Ir. H Juanda BOGOR 16123 Telp. 0251-321608, email: 
soil-ri@indo.net.id. Harga cukup murah hanya 1 juta rupiah per unitnya. (Gambar kiri: PUTS dilengkapi  buku pedoman dan bagan warna yang mudah diaplikasikan; Gambar kanan: PUTK).
Rekomendasi padi sawah dengan menggunakan PUTS akan memberikan pedoman status hara N, P, K, dan C organik tanah dan sekaligus dosis pupuk urea, SP-36, KCl dan bahan organik yang perlu ditambahkan per hektar. Perangkat ini didisain untuk pemupukan setara varietas padi IR-64 dengan potensi hasil 5 – 7 ton/ha GKG.

Perangkat PUTK selain dapat menetapkan status hara sama dengan PUTS, juga dilengkapi untuk penetapan kebutuhan kapur. PUTK juga didisain menetapkan pemupukan spesifik lokasi untuk tanaman padi gogo, jagung, dan juga kedelai.

Beberapa hasil yang telah dicoba penetapan pemupukan spesifik lokasi di Kabupaten Katingan dan Kapuas dalam rangka mendukung kegiatan SLPTT tahun 2010 (Tabel 1).  Jika seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah telah menyeluruh menggunakan PUTS/PUTK seperti di tingkat UPTD/BPP dan utamanya bagi beberapa kabupaten yang belum swasembada pangan, perangkat tersebut diharapkan mampu mendongkrak produksi pangan daerah bersangkutan.  (Dr. A)

Tabel 1. Contoh Pemupukan Spesifik Lokasi menggunakan PUTS/PUTK
Desa
Lahan
Status hara Tanah
JenisTanaman
Dosis Pupuk (kg/ha)
N
P
K
C-Org.
pH
Urea
SP-36
KCl
Kapur (ton/ha)
Terusan Danum
(Katingan)
Lebak
ST
T
R
-
5-6
Padi sawah
200
50
100 atau 50+ 5 t/ha jerami
Bangkuang
(Katingan)
Kering
R
S
T
R
5-6
Padi gogo
200 + 2t bo atau 250 – bo
75
50
-
Kedelai
25 + 2 t bo atau 50 - bo
75
50
1
Jagung
350 + 2 t bo atau 400 – bo
87,5
50
0,5
T. Rangas
(Katingan)
Kering
R
R
S
R
5-6
Padi gogo
200 + 2t bo atau 250 – bo
100
75
-
Kedelai
25 + 2 t bo atau 50 - bo
100
100
1
Jagung
350 + 2 t bo atau 400 – bo
125
75
0,5
Hampalam
(Katingan)
Kering
R
S
T
R
5-6
Padi gogo
200 + 2t bo atau 250 – bo
75
50
-
Kedelai
25 + 2 t bo atau 50 - bo
75
50
1
Jagung
350 + 2 t bo atau 400 – bo
87,5
50
0,5
Petak Batuah
(Kapuas)
Pasang Surut
S
SR
R
-
-
Padi sawah
200
150
100
-

Kamis, 19 Januari 2012

PENGUMUMAN PENERIMAAN
SARJANA MEMBANGUN DESA (SMD )
TAHUN 2012
Pada tahun anggaran 2012 Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan
Kementerian Pertanian RI, akan merekrut Lulusan Perguruan Tinggi Bidang Ilmu
Peternakan dan Kesehatan Hewan menjadi Sarjana Membangun Desa (SMD) untuk
mengembangkan usaha agribisnis berbasis peternakan di Pedesaan, dengan ketentuan
sebagai berikut:
A. Persyaratan Calon SMD:
1. Lulusan Perguruan Tinggi bidang Ilmu-ilmu Peternakan atau Kedokteran Hewan
dengan kualifikasi D-3, D-4, S-1 dan S-2;
2. Mempunyai Kelompok Tani Ternak binaan;
3. Berdomisili tetap di sekitar Desa/Kelurahan dimana Kelompok Tani ternak
binaannya berada (maksimal Desa/Kelurahan terdekat dalam wilayah Kecamatan
yang sama)
4. Memilih 1 (satu) jenis komoditi yang akan dikembangkan, sesuai dengan potensi
dan jenis ternak yang telah dikembangkan oleh Kelompok binaannya (Sapi
Potong, Sapi Perah, Kerbau, Kambing/Domba, Unggas dan Kelinci.
B. Membuat Proposal Usaha:
1. Proposal dibuat oleh Calon SMD bersama dengan Pengurus dan Anggota
Kelompok dengan ruang lingkup:
a. Profil calon SMD dan Kelompok binaannya;
b. Potensi sumberdaya yang dimiliki sebagai pendukung dalam mencapai
keberhasilan usaha;
c. Program kerja yang meliputi rencana kegiatan (RUK) dan anggaran yang
dibutuhkan, penerapan teknologi, model pengembangan usaha,
pengembangan SDM petani peternak, mekanisme koordinasi dll;
d. Analisa kelayakan usaha;
e. Data dan informasi pendukung lainnya seperti lahan, rencana aksesibilitas dll;
2. Proposal direkomendasikan oleh Kepala Dinas Peternakan atau Dinas yang
membidangi fungsi Peternakan Kabupaten/Kota.
C. Tata Cara Pengajuan Proposal:
Para Calon SMD mengajukan permohonan dengan mekanisme sebagai berikut:
1) Mengajukan surat permohonan yang ditujukan kepada Menteri Pertanian, up.
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, dengan
melampirkan:
a. Proposal Usaha sebagaimana dimaksud item B
b. Copy ijazah terakhir, daftar riwayat hidup serta riwayat pekerjaan dan aktivitas
organisasi yang pernah diikuti;
c. Copy kartu identitas (KTP) dan surat keterangan domisili dari Kepala
Kelurahan atau Kepala Desa;
d. Surat pernyataan kesanggupan untuk melaksanakan kegiatan minimal 3 (tiga)
tahun yang ditandatangani di atas materai Rp. 6.000,-
2) Surat permohonan dikirimkan kepada Tim Pelaksana SMD Ditjen Peternakan dan
Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian dengan alamat:
Direktorat Budidaya Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan
Kantor Pusat Kementerian Pertanian, gedung C lantai 9 Jl. Harsono RM No.3
Ragunan Jakarta 12550, Telp/Fax 021-7815782, atau ke Perguruan Tinggi yang
ditunjuk (terlampir)
3) Penerimaan Proposal dimaksud mulai tanggal 9 Januari s/d 9 Pebruari 2012
Tim Pelaksana SMD
Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan
Lampiran : Perguruan Tinggi yang ditunjuk dalam pelaksanaan penerimaan SMD
Tahun 2012 :
1. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala
2. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
3. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Andalas
4. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Islam Negeri Riau
5. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Jambi
6. Dekan Fakultas Pertanian Jurusan Peternakan Universitas Bengkulu
7. Dekan Fakultas Pertanian Jurusan Peternakan Universitas Sriwijaya
8. Dekan Fakultas Pertanian Jurusan Peternakan Universitas Lampung
9. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran
10. Dekan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor
11. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
12. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro
13. Dekan Fakultas Pertanian Jurusan Peternakan Univ.Sebelas Maret Surakarta
14. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada
15. Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga
16. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang
17. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang
18. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Islam Kalimantan
19. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya
20. Dekan Fakultas Pertanian Jurusan Peternakan Universitas Mulawarman
21. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin
22. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sulawesi Barat
23. Dekan Fakultas Pertanian Jurusan Peternakan Universitas Haluoleo
24. Dekan Fakultas Pertanian jurusan Peternakan Universitas Tadulako
25. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gorontalo
26. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Udayana
27. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Mataram
28. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Cendana
29. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura
30. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Khaerun
31. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Papua

Senin, 02 Januari 2012

BOP THL-TBPP 2012 ditingkatkan

1. BOP THL TB PP pada tahun 2012 akan dinaikkan, setidaknya itulah kabar baik yang disampaikan oleh Dr. Ato Suprapto, Kepala Badan PPSDM Pertanian

2. Adapun menyangkut soal nasib Penyuluh THL, beliau menyampaikan bahwa saat ini Kementerian Pertanian sedang menggodok dan telah mengusulkan mekanisme aturan untuk memeberikan kesempatan bagi Penyuluh THL agar mereka punya prasyarat khusus (tiket) untuk bisa mengikuti rekrutment PNS lingkup Kementan. “Mohon untuk bersabar dan kita terus memperjuangkan formasi mereka mengingat keberadaan Penyuluh THL sangat diperlukan.

Senin, 19 Desember 2011

pestisida nabati dan proses pembuatannya

RAMUAN I
Bahan-bahan:
 1 kg lengkuas
 1 kg kunyit
 1 butir gambir
 1 liter EM4
 1-2 liter air bersih
Cara membuat:
Lengkuas, kunir dan gambir diparut atau ditumbuk halus kemudian ditambah air dan EM4, biarkan selama ± seminggu (lebih lama lebih baik), setelah itu disaring dan diambil airnya. Digunakan untuk mengendalikan penyakit tanaman dengan dosis 5-10 cc/ liter air, dengan cara disemprotkan.
RAMUAN II
Bahan-bahan:
 1000 cc air cucian beras yang pertama
 100 cc molase/tetes tebu/gula pasir
 100 cc alkohol 40 %
 100 cc cuka makan/ cuka aren
 100 cc EM4
Cara membuat:
Semua bahan tersebut dicampur dan dimasukkan dalam botol/ jerigen yang ada tutupnya lalu dikocok setiap pagi dan sore hari. Setiap selesai dikocok dibuka tutupnya agar gas dihasilkan keluar. Proses fermentasi ini berlangsung ± 15 hari. Setelah itu pengocokan segera dihentikan (setelah tidak ada gas yang terbentuk) dan biarkan selam 7 hari. Digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman dengan dosis 5-10 cc/ liter air, dengan cara disemprotkan.
RAMUAN III
Bahan-bahan:
 6 kg daun nimba bandotan
 6 kg daun serai wangi
 6 kg laos merah/ laos biasa
 1 liter EM4
 20 liter air
 0,25 kg gula pasir/ molase
Cara membuat:
Daun nimba, serai wangi dan laos ditumbuk sampai halus kemudian direndam dalam air. Setelah itu diperas dan disaring, hasil saringan dicampur dengan EM4 dan cairan gula/ molase. Selanjutnya campuran itu dikocok dan diaduk agar tercampur merata.
Digunakan untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh jamur dan efektif untuk hama pengisap dengan dosis 10-20 cc/liter air, bisa ditambah dengan perata atau perekat kemudian disemprotkan.
RAMUAN IV
Bahan-bahan:
 Kecubung (daun, batang dan buah) secukupnya
 Gadung (daun, batang dan umbi) secukupnya
 Tembakau (dan, batang dan umbi) secukupnya
 Daun sirih secukupnya
 EM4 1 liter
Cara membuat:
Semua bahan tanaman dicampur dan dihancurkan, tambahkan air secukupnya. Tambahkan EM4 dengan perbandingan 10:1 (10 liter air banding 1 liter EM4). Selanjutnya direndam dan biarkana selama 21 hari. Sebelum digunakan terlebih dahulu disaring agar bersih dari ampas. Digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman dengan dosis 5-10 cc/ liter air, dengan cara disemprotkan.
TIPS:
 Lakukan penyemprotan pada beberapa tanaman uji coba sebelum digunakan secara luas
 Hindari penyemprotan pada saat angin kencang
 Untuk mencapai hasil yang baik lakukan penyemprotan pada sore hari seminggu sekali secara teratur
 Jangan menyemprot saat tanaman di pembibitan
Sumber:
Dinas Pertanian Kabupaten Wonosobo. 2006. Pestisida Alami untuk Tanaman. Dinas Pertanian Kabupaten Wonosobo. Wonosobo

Kamis, 15 Desember 2011

kontrak thl tbpp 2012

Hasil Pertemuan FK THLTBPP Nasional dengan Pusluhtan BPSDMP Kemtan, 14 Desember 2011

oleh FORUM KOMUNIKASI THLTBPP NASIONAL pada 14 Desember 2011 pukul 22:48

RELEASE
FORUM KOMUNIKASI TENAGA HARIAN LEPAS
TENAGA BANTU PENYULUH PERTANIAN NASIONAL
(FK THL-TB PENYULUH PERTANIAN NASIONAL)

TENTANG
HASIL KOORDINASI PENGURUS FK THL-TB PENYULUH PERTANIAN NASIONAL DENGAN
PUSAT PENYULUHAN PERTANIAN, BADAN PENYULUHAN
DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN

JAKARTA, 14 DESEMBER 2011

Kepada Koordinator dan Pengurus Forum Komunikasi THL-TB Penyuluh Pertanian Propinsi dan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia. Kami Pengurus FK THL-TB Penyuluh Pertanian Nasional menyampaikan hasil kegiatan koordinasi pengurus FK THL-TB Penyuluh Pertanian Nasional dengan Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian,  sebagai berikut:
  1. Kontrak Kerja THL-TB Penyuluh Pertanian Tahun 2012 direncanakan terhitung mulai tanggal 1 Januari berakhir 31 Oktober 2012.
  2. Sampai saat ini revisi data THL-TB Penyuluh Pertanian tiap Propinsi yang direkomendasikan untuk diperpanjang kontraknya masih banyak yang belum masuk ke Posko THL-TB Penyuluh Pertanian, dan untuk itu agar segera dipercepat, karena akan segera di terbitkan SK Penetapan Menteri Pertanian. Apabila ada data THL-TB Penyuluh Pertanian yang tercecer atau tertinggal setelah SK Penetapan Menteri Pertanian diterbitkan, maka THL-TB Penyuluh Pertanian yang bersangkutan belum bisa menerima Honor dan BOP pada masa kontrak T.A. 2012.
  3. Honor dan BOP THL-TB Penyuluh Pertanian tetap melalui dana dekonsentrasi yang disalurkan melalui PUMK Propinsi kemudian disalurkan ke PUMK Kabupaten/Kota.
  4. BOP THL-TB Penyuluh Pertanian yang berpendidikan SPP-SPMA akan ditinjau lagi pada Tahun 2013, karena untuk Tahun 2012 anggaran sudah ditetapkan.

Jakarta, 14 Desember  2011
Ketua
ttd



Dedy Alfian

harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi

Pasal 9
(1) Penyalur di Lini IV yang ditunjuk harus menjual pupuk bersubsidi sesuai Harga
Eceran Tertinggi (HET).
(2) Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditetapkan sebagai berikut :
- Pupuk Urea = Rp.1.800; per kg;
- Pupuk SP-36 = Rp.2.000; per kg;
- Pupuk ZA = Rp.1.400; per kg;
- Pupuk NPK = Rp.2.300; per kg;
- Pupuk Organik = Rp. 500; per kg;
(3) Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) berlaku untuk pembelian oleh petani, pekebun, peternak, pembudidaya ikan
dan/atau udang di Penyalur Lini IV secara tunai dalam kemasan sebagai berikut :
- Pupuk Urea = 50 kg atau 25 kg;
- Pupuk SP-36 = 50 kg;
- Pupuk ZA = 50 kg;
- Pupuk NPK = 50 kg atau 20 kg;
- Pupuk Organik = 40 kg atau 20 kg;

Minggu, 20 November 2011

peran pupuk NPK

No. O 1/LPTP/IRJAl99-00
PERANAN PUPUK NPK
PADA TANAMAN PADI
Disusun oleh:
Abdul Wahid Rauf
Syamsuddin. T
Sri Rahayu Sihombing
DEPARTEMEN PERTANIAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Koya Barat
Irian Jaya - 2000

KATA PENGANTAR
Guna menunjang usaha pengembangan tanaman pangan di Irian Jaya,
khususnya padi LPTP Koya Barat telah melaksanakan pengkajian di beberapa
wilayah di Irian Jaya sehubungan dengan hat tersebut.
Penyebaran brosur ini dimaksudkan untuk menyediakan hasil-hasil pengkajian,
sebagai upaya LIMA menyediakan bahan Informasi yang lebih spesifik lokasi.
Akhir-nya diharapkan brosur ini dapat dimanfaatkan oleh rekan-rekan penyuluh
sebagai acuan bagi penyusunan materi penyuluhan yang berkaitan dengan
Peranan Pupuk NPK pada tanaman Padi.
Teknologi selalu berkembang, karena itu umpan batik dari penerapan teknologi ini
sangat kami harapkan agar selalu dihasilkan teknologi yang lebih tepat guna bagi
petani di masa mendatang
Jayapura, Maret 2000
Kepala LPTP,
Ir. M. Zain Kanro, NIS
NIP. 080 044 028


DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar . ..................................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................................... ii
Pendahuluan . ...................................................................................................... 1
Peranan N. P dan K Pada Padi . ...................................................................... 2
Pentingnya Pemupukan Secara Berimbang .................................................. 5
Waktu Pemberian Pupuk . ................................................................................. 6
Cara Aplikasi Pupuk ........................................................................................... 7
Analisa Ekonomi ................................................................................................. 9


PENDAHULUAN
Usaha pengembangan tanaman pangan di Irian Jaya, khususnya padi
terkonsentrasi pada tiga kabupaten sentra pengembangan, yaitu kabupaten
Merauke, Manokwari, dan Jayapura, yang merupakan daerah pemasok pangan
ke kabupaten lainnya di Irian Jaya. Dengan demikian diharapkan produksi dan
produktivitas padi di daerah ini tetap meningkat, baik dari segi kuantitas maupun
kualitas serta dapat meminimalkan pasokan beras dari luar Irian Jaya.
Ketiga daerah sentra pengembangan padi tersebut diatas, bukan berarti tidak
mengalami hambatan baik dari segi teknis maupun non teknis dalam kaitannya
dengan peningkatan produksi. Aspek teknis yang menjadi masalah utama adalah
kondisi agro-ekosistem, dimana ketiga daerah pengembangan padi tersebut
umumnya berada pada daerah zone ekologi/ sub wilayah fluxial, yaitu berada
pada muka air tanah yang sangat dangkal dan berrawa. Pada kondisi lahan
seperti ini diperhadapkan kepada berbagai kendala seperti kemasaman tanah
yang tinggi, kurang tersedianya unsur hara makro seperti N, P dan K yang sangat
dibutuhkan oleh tanaman dan meningkatnya konsentrasi AI, Fe dan Mn dalam
tanah yang dapat meracuni tanaman.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kurangnya unsur
hara tersebut adalah pemberian pupuk anorganik seperti Urea, TSP/SP-36 dan
KCI, yang sangat nyata pengaruhnya terhadap tanaman, utamanya pupuk urea,
sehingga petani lebih cenderung menggunakan pupuk Urea dibandingkan dengan
TSP dan KCI.
Dengan cara seperti demikian produksi padi secara optimal sulit dicapai, karena
kondisi lahan tetap kekurangan unsur P dan K terus berlanjut. Khususnya K
disamping mudah terurai dalam tanah juga banyak terangkut oleh tanaman waktu
panen, sehingga mutlak adanya penambahan unsur ini setiap saat atau setiap
musim tanam.
Pemupukan secara berimbang utamanya keseimbangan antar pupuk Urea, TSP/
SP-36 dan KCL pada sentra pengembangan padi di Irian Jaya, perlu
dilaksanakan dan diinformasikan kepada petani, karena umumnya petani hanya
menggunakan Urea saja, dengan alasan atau pertimbangan ekonomi tanpa
memperhatikan aspek produksi dan produktivitas tanaman.
Peranan N,P dan K pada Padi
Ketiga unsur ini mempunyai peran yang sangat penting terhadap pertumbuhan
dan produksi tanaman, dimana ketiga unsur ini saling berinteraksi satu sama lain
dalam menunjang pertumbuhan tanaman, unsur nitrogen dapat diperoleh dari
pupuk Urea dan ZA. unsur P dari pupuk TSP/SP-36, sedangkan K dalam KCI dan
ZK.
Peranan Nitrogen
Unsur N adalah merupakan unsur yang cepat kelihatan pengaruhnya terhadap
tanaman. Peran utama unsur ini adalah :
- Merangsang pertumbuhan vegetatif (batang dan daun).
- Meningkatkan jumlah anakan
- Meningkatkan jumlah bulir/ rumpun
Kurang unsur N menyebabkan:
- Pertumbuhannya kerdil
- Daun tampak kekuning-kuningan
- Sistem perakaran terbatas
Kelebihan unsur N menyebabkan tanaman:
- Pertumbuhan vegetatif memanjang (lambat panen)
- Mudah rebah
- Menurunkan kualitas bulir.
- Respon terhadap serangan hama/ penyakit.
Peranan Posfor
Secara detail fungsi posfor dalam pertumbuhan tanaman sukar di utarakan,
namun demikian fungsi-fungsi utama posfor dalam pertumbuhan tanaman adalah
sebagai berikut :
- Memacu terbentuknya bunga, bulir pada malai
- Menurunkan aborsitas
- Perkembangan akar halus dan akar rambut
- Memperkuat jerami sehingga tidak mudah rebah
- Memperbaiki kualitas gabah
Kekurangan posfor menyebabkan tanaman
- Pertumbuhan kerdil
- Jumlah anakan sedikit w
- Daun meruncing berwarna hijau gelap
Peranan Kalium
Kalium merupakan satu-satunya kation monovalen yang esensial bagi tanaman.
Peranan utama kalium dalam tanaman ialah sebagai aktivator berbagai enzim.
Dengan adanya kalium yang tersedia dalam tanah menyebabkan:
- Ketegaran tanaman terjamin
- Merangsang pertumbuhan akar
- Tanaman lebih tahan terhadap hama dan penyakit
- Memperbaiki kualitas bulir
- Dapat mengurangi pengaruh kematangan yang dipercepat oleh posfor
- Mampu mengatasi kekurangan air pada tingkat tertentu
Kekurangan Kalium menyebabkan :
- Pertumbuhan kerdil
- Daun kelihatan kering dan terbakar pada sisi-sisinya.
- Menghambat pembentukan hidrat arang pada biji.
- Permukaan daun memperlihatkan gejala klorotik yang tidak merata
- Munculnya bercak coklat mirip gejala penyakit pada bagian yang berwarna
hijau gelap.
Kelebihan kalium dapat menyebabkan daun cepat menua sebagai akibat kadar
magnesium daun dapat menurun, kadang-kadang menjadi tingkat terendah
sehingga aktifitas fotosintesa terganggu.
Pentingnya Pemupukan Secara Berimbang
Pemupukan secara berimbang utamanya keseimbangan antara Urea, SP - 36/
TSP dan KCI yang harus diberikan tergantung pada keadaan tanah. Unsur utama
yang terkandung dalam pupuk ini bila digunakan secara tepat tidak saja mengendalikan,
mengimbangi, mendukung dan saling mengisi satu, sama lain diantara
ketiga. jenis pupuk ini, akan tetapi juga dengan unsur-unsur lainnya. Hal ini
sangat penting karena ada keterkaitan ekonomi dan efektivitan pemupukan.
Pupuk yang diberikan merupakan tambahan bagi unsur yang sudah ada dalam
tanah, sehingga jumlah nitrogen, posfor dan kalium yang tersedia bagi tanaman
berada dalam perbandingan yang tepat.
Pada waktu bersamaan ketersediaan unsur penting (esensial) lainnya juga harus
dalam keadaan optimal. Sebagai contoh apabila pemupukan padi hanya dipupuk
dengan urea saja, kelihatannya sangat cepat dan rimbun akan tetapi sangat
lemah sehingga mudah rebate dan tidak tahan, terhadap serangan hama dan
penyakit. Demikian pula sebaliknya apabila hanya dipupuk TSP/SP-36 atau KCI
saja pupuk ini tidak akan berpengaruh optimal terhadap pertumbuhan dan
produksi tanaman. Pada prinsipnya keseimbangan hara atau kesuburan secara
menyeluruh harus sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan
tanaman yang lebat dan normal.
Waktu Pemberian Pupuk N, P dan K
Waktu pemberian pupuk disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan tanaman dan
jenis pupuk yang akan menjamin untuk optimalnya penyerapan unsur pupuk
tersebut oleh tanaman. Pemberian pupuk TSP / SP-36 umumnya diberikan
bersamaan tanam, sedangkan Urea diberikan dua kali yaitu ½ dosis saat tanam
(satu minggu setelah tanam) ½ dosis 35 hari setelah tanam (saat tanaman aktif).
Pemberian pupuk KCL, pads prinsipnya pemberian lebih sedikit tetapi lebih
sering, itu lebih baik, dibandingkan dengan pemberian dalam jumlah banyak tapi
diberikan sekaligus.
Untuk menjamin efektifnya penyerapan unsur hara dari pupuk KCL, maka
pemberiannya disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan tanaman padi yaitu 1/3
dosis 1 minggu setelah tanam, 1/3 dosis 35 hari setelah tanam (saat anakan aktif)
dan 1/3 dosis 55 hari setelah tanam saat primordia).
Cara Aplikasi Pupuk
Pemupukan dilakukan secara manual dengan sebar atau hambur merata pada
areal tanaman. Untuk aplikasi pupuk urea dan KCL pada waktu yang bersamaan
dapat dicampur secara merata sebelum diaflikasikan dan setelah dicampur harus
segera ditabur, tidak boleh disimpan terlalu lama.
Hasil penelitian penggunaan Urea, SP-36 dan KCL yang dilakukan di Koya Timur
MH. 1998 /1999 menunjukkan bahwa konsentrasi pupuk urea, SP - 36 dan KCL
(200 kg/ha,150 kg/ha) memberikan hasil tertinggi, yaitu 6,66 ton/ ha pada varietas
Membramo (A. Wahid Rauf at. al, 1998). Mengenai efisiensi fisik dan ekonomi
dari pemberian pupuk tersebut dapat dilihat pada tabel I.
Tabel 1 Produksi dan efisiensi pupuk urea, SP-36, KCL
di Koya Timur MT. 1998/ 1999.
Dosis Pupuk KCL (Kg/ ha)
100 150 200
Dosis
Pupuk
(Kg/ ha)
Prod Eff. Prod Eff. Prod Eff.
Urea 100
SP-36 50 4.08 12.5 (6.25) 4.59 11.9(5.4) 4.92 10.9 (4.6)
100 5.09 13.7 (6.25) 4.95 11.0(5.1) 5.57 11.0 (4.2)
150 4.64 10.0 (5.00) 4.35 7.8 (3.4) 4.81 9.5 (4.2)
Urea 150
SP-36 50 5.10 13.7 (7.20) 5.14 11.6(5.5) 5.60 11.1(5.0)
100 5.57 12.9 (6.70) 5.81 11.6(5.6) 6.38 11.5 (5.2)
150 5.47 10.8 (5.00) 5.58 9.7 (4.7) 5.85 9.1 (4.1)
Urea 200
SP-36 50 5.27 12.6 (6.80) 5.27 10.2(5.1) 5.20 8.8 (4.1)
100 5.33 10.4 (5.60) 5.76 10.1(5.1) 6.66 10.8 (5.1)
150 5.14 8.7 (4.60) 5.04 7.5 (3.8) 5.14 6 9 (3.2)
Prod = Produksi (ton/ ha)
Eff = Efesiensi fisik (Angka dalam kurung menunjukkan efesiensi ekonomi)
Sumber : A. Wahid Rauf et. al. (1998).
Pada Tabel tersebut diatas menunjukkan bahwa penggunaan pupuk dengan
kombinasi Urea 200 Kg/ha, SP-36 100 kg/ha dan KCL 150/ha dapat
meningkatkan hasil padi 6,66 ton/ha, dengan efesiensi fisik cukup tinggi yaitu 10,8
kg gabah kering/kg. Kombinasi pupuk dengan efesiensi ekonomi 5,1 artinya
setiap keluaran satu unit bagi penggunaan pupuk N,P,K dapat memberikan
penghasilan sebesar 5 unit.
Analisa Ekonomi
Hasil Analisa ekonomi pada tabel 2 berikut ini menunjukkan bahwa dengan
penggunaan dosis pemupukan 200 kg Urea, 100 kg SP - 36 dan KCL 150 kg/ ha
menghasilkan pendapatan yang tertinggi yaitu Rp. 2.885.000,- dengan catatan
bahwa pemantauan keadaan hama dan penyakit di lapangan harus lebih intensif.
Sedangkan dengan kombinasi pupuk ini merupakan kombinasi yang umum
digunakan oleh petani dengan perolehan pendapatan Rp. 937.000,- dan sebagian
lagi dari petani hanya menggunakan pupuk urea saja dengan dosis 100 kg urea
per hektar dengan pendapatan yang sangat rendah yaitu hanya Rp. 199.500,-
Tabel 2. Analisa Ekonomi Penggunaan Kombinasi N,P,K
di Koya Timur. MK 1998/ 1999.
Uraian
Sarana produksi
(Rp)
N-P-K
(200-100-150)
N-P-K
(150-75-75)
N-P-K
(150-0-0)
Benih 87.500 87.500 87.500
Pupuk
Urea 300.000 225.000 225.000
SP-36 200.000 150.000 -
KCL 375.000 150.000 -
Pestisida:
Furadan 200.000 150.000 150.000
Akodan 204.000 170.000 170.000
Mipcin 224.000 168.000 168.000
Dharmabas 100.000 - -
Tenaga Kerja
Pengolahan Tanah 400.000 400.000 400.000
Penanaman 250.000 250.000 250.000
Penyiangan 350.000 350.000 350.000
PHT 75.000 50.000 50.000
Panen 350.000 275.000 250.000
Biaya Produksi (Rp) 3.111.500 2.463.000 2.100.500
Produksi (Rp) 6.000.000 3.400.000 2.300.000
Pendapatan (Rp) 2.884.500 937 000 199.000
R/C. 0,92 0,38 0,09
*) Dosis pupuk yang umum digunakan petani
DAFTAR PUSTAKA
----- A. Wahid Rauf, M. N. Noor, Sania Saenong,1998. Pemupukan NPK padi
sawah di Koya Barat. Makalah pada Temu Informasi Teknologi Pertanian, tanggal
27 -28 Mei 1999, di LPTP Koya Barat. Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Koya
Barat.
------ Hendi Supriadi, Waluyo, I.W. Supartha, 1995. Pengaruh Pemupukan NPK
Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi di Lahan Rawa Lebak. Dalam Suwhardi,
Arif Musaddad, Trip Alamsyah, Inu. G .Ismail (penyunting). Teknologi Produksi
dah Pengembangan Sistem Usahatani di Lahan Rawa. Proyek Penelitian
Pengembangan Pertanian rawa tengah-ISDP. Bahan Penelitian dan
Pengembangan Petani.
------ Suyanto H.1995. Pemupukan Kalium dan tanah Vertizol. Dalam M. Syam,
Hermanto, Arif Musaddad, Sumhardi (penyunting). Prosiding Simposium
Penelitian Tanaman pangan Ill.
Pupuk dengan kombinasi Urea 200
Kinerja Penelitian Tanaman Pangan (Bulan III). Badan Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Pangan.
------ Tejasarwana, 8.1995. Efisiensi dan Penggunaan Pupuk N dan P dengan
Budidaya Padi Sawah, Dalam M. Syam, Hermanto, Arif Musaddad dan Sumhard
(penyunting)._ Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Kinerja
Penelitian Tanaman Pangan (Bulan III). Badan Penelitian dan Pengembangan
Pangan.